3D Printing; Solusi Teknologi untuk Membuat Organ Tubuh Manusia

Saat ini, menciptakan bagian tubuh manusia dengan teknologi 3D Printing bukanlah hal yang mustahil. Misalnya, apabila ada orang yang mengalami kecelakaan dan kehilangan salah satu kakinya. Pembuatan kaki palsu manusia seperti ini bisa dilakukan dengan proses 3D Printing untuk menghasilkan bentuk dan ukuran kaki yang sama dengan kaki aslinya.

Gambar 1. 3D Printing untuk Membuat Kaki Palsu
Sumber: http://www.makepartsfast.com/3d-printers-deliver-competitive-alternative-to-traditional-prosthetic-limbs/

Dalam dunia kesehatan, para dokter juga bisa menggunakan 3D Printing untuk membuat contoh organ tubuh manusia sebagai alat perencanaan pra-operasi yaitu untuk membantu mereka dalam memvisualisasikan dan merencanakan kerja organ sebelum operasi sebenarnya.

Gambar 2. Ilustrasi 3D Printing untuk Organ Tubuh Manusia
Sumber: http://www.explainingthefuture.com/bioprinting.html

Gambar 3. Hasil 3D Printing Jantung Manusia dengan Bahan Rubber
Sumber: Dokumen Pribadi HAL

Selain itu, rekayasa jaringan telah menjadi bidang penelitian yang menjanjikan, menawarkan harapan untuk menjembatani kesenjangan antara kekurangan organ dan kebutuhan transplantasi [1]. Teknologi 3D Printing untuk bidang kesehatan ini sering disebut Bioprinting. Teknologi Bioprinting dalam bidang kesehatan ini merupakan tantangan tersendiri yang harus terus dikembangkan. Trend di masa yang akan datang, Bioprinting ini mengarah pada proses printing sel maupun proses printing dengan biomaterial lainnya. Jadi, teknologi Bioprinting ini sangat menjanjikan untuk pembuatan organ tubuh manusia secara nyata. Walaupun demikian, teknologi ini masih dalam tahap awal dan masih akan terus dikembangkan.

Gambar 4. Desain Prosthesis Gigi Manusia [2]

Contoh lain pengembangan teknologi 3D Printing dalam bidang kesehatan ini adalah untuk pembuatan gigi palsu seperti pada penelitian Totu, dkk. (2017). Mereka mengembangkan polimer nanokomposit untuk material 3D Printing pada prosthesis gigi. Istilah prosthesis sendiri dapat diartikan sebagai alat kesehatan yang didesain untuk menggantikan bagian tubuh tertentu untuk membantu pasien mendapatkan kembali fungsi tertentu setelah bagian tubuhnya cidera berat karena kecelakaan atau terkena penyakit.

Gambar 5. Gigi Tiruan (denture) Hasil Proses 3D Printing [2]

Pustaka:
[1] Ozbolat, Ibrahim T. and Yin Yu, “Bioprinting Toward Organ Fabrication: Challenges and Future Trends,” IEEE Transactions on Biomedical Engineering, Volume 60, No 3, March 2013.

[2] Totu, Eugenia Eftimie et all. “On Latest Application Developments for Dental 3D Printing,” The 6th IEEE International Conference on E-Health and Bioengineering – EHB 2017.

3D Printing di Era 4.0

REVOLUSI INDUSTRI

Tidak dapat dipungkiri, perkembangan teknologi memang melaju sangat cepat. Perkembangan ini mempunyai dampak terhadap kehidupan manusia. Baik dampak secara sosial, ekonomi, maupun budaya di dunia. Tidak terlepas pula dampak yang terasa di dunia industri. Sampai saat ini, perkembangan dunia industri telah melewati beberapa masa. Dari beberapa kali dunia industri mengalami masa revolusi, mulai dari revolusi industri 1.0 sampai 4.0, peran teknologi menjadi ujung tombak yang sangat penting.


Gambar 1. Ilustrasi Perjalanan Revolusi Industri
Sumber: https://erichfelbabel.com/2018/03/07/industry-4-0-are-you-ready/

Revolusi Industri 1.0

Pada abad ke-18 tepatnya antara tahun 1750 s.d. 1850, revolusi industri pertama terjadi. Hal tersebut ditandai dengan beralihnya penggunaan tenaga kerja manusia yang digantikan oleh mesin. Penemuan mesin uap oleh Thomas New Comen (1663–1729) dan dikembangkan oleh James Watt (1736–1819) menjadi pemicu terjadinya perubahan secara besar-besaran yang menggemparkan dunia. Perubahan tersebut meliputi bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi.

Setelah mesin uap berhasil dikembangkan oleh James Watt pada tahun 1764, kemudian Marquis de Jouffroy juga mengembangkan mesin uap untuk penggerak kapal. Lalu, Richard Trevithick mengembangkan mesin uap untuk mesin penggerak lokomotif.


Gambar 2. Ilustrasi Mesin Uap Penemuan Thomas New Comen yang Dikembangkan oleh James Watt

Sumber: https://i.pinimg.com/originals/f1/45/50/f14550808b1e7af5070a9e47f7b7693d.jpg

 

Revolusi Industri 2.0

Era revolusi industri selanjutnya adalah pada saat dunia industri telah merambah ke arah produksi masal berdasarkan pembagian kerja. Memang tidak ada pemisah waktu yang cukup jelas antara revolusi industri 1.0 menuju ke era 2.0. Namun, salah satu penandanya adalah dengan adanya penggunaan assembly line, pembangkit tenaga listrik, dan motor pembakaran dalam. Revolusi Industri 2.0 ini terjadi sekitar abad ke-19.

Revolusi Industri 3.0

Era revolusi industri 3.0 ini ditandai dengan dunia industri yang berdasarkan pada penggunaan internet dan pengembangan bidang elektronika untuk membuat sistem produksi secara otomatis. Hal ini juga ditandai dengan munculnya komponen PLC (Programmable Logic Controller) yang berperan sebagai otak suatu kendali otomatis. Penggunaan sistem otomatisasi berbasis pemrograman komputer ini membuat mesin-mesin di industri tidak lagi dikendalikan oleh manusia. Dampaknya, biaya produksi menjadi bisa lebih lebih murah.

REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan cyber-physical systems. Era ini menuntut manusia agar terkoneksi dengan manusia lain, dengan mesin-mesin industri, dan dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Selain itu, antar mesin maupun perangkat dan peralatan yang lainnya juga bisa saling terkoneksi satu sama lain. Intinya, semua sistem fisik saling terkoneksi melalui proses virtual maupun cyber systems. Tentunya, adanya revolusi industri 4.0 ini akan bisa meningkatkan produktivitas secara signifikan. Ada beberapa teknologi kunci yang menandai era revolusi industry 4.0 sudah dimulai. Teknologi kunci tersebut antara lain Internet of Things (IoT), Advance Robotics, Artificial Intelligence, Human Machine Interface, dan 3D Printing.

Gambar 3. Beberapa Mesin 3D Printing Produk Indonesia
Sumber: Dokumen Pribadi

Summarized by: Ikhwan Taufik